Bertemu Suka Diatas Duka

Hari ini hari ketiga aku di tanah kelahiran tercinta. Di rumah sederhana yang semakin lama semakin lega ruangnya. Bukan karena rumahnya diperbesar, tapi karena isinya yang habis terjual. Senang, sedih, campur aduk kalau pulang ke rumah. Senangnya bisa kumpul dengan keluarga, sedihnya kumpul keluarganya cuma sama mama.

Kini rumah sepi. Biasanya jam segini aku dengar papa ngorok di depan TV. Pasti papa capek banting tulang demi keluarga. Tapi sekarang sunyi, sekarangpun aku di kamar sendiri. Dulu rumah ini cukup ramai. Ada papa, mama, kakak pertama, kakak kedua, dan aku. Rumah sedikit tidak ramai setelah kakak kedua meninggal. Kemudian semakin sepi setelah kakak pertama harus kerja di luar kota. Aku juga memikirkan gimana sepinya pas aku harus kembali ke tanah rantau. Di rumah tinggal mama berdua dengan papa. Kalo papa kerja, ya mama sendiri di rumah. Dan sekarang semakin sepi setelah papa di penjara. Baca lebih lanjut

Iklan

Untitled

Aku seorang anak biasa. Rumah sederhana, mobil tak punya. Boro – boro punya mobil, nyetirnya aja belum tentu bisa. Papa sih katanya dulu bisa, tapi karena trauma sampe sekarang ga pernah bawa mobil jadinya. Pergi kemana – mana yang cuma bawa motor aja.

Kehidupan ga susah, ga juga istimewa. Biasa. Normal saja. Aku alhamdulillah masih bisa sekolah, mama jadi ibu2 yang suka di rumah, kakak baru saja nikah sama pilihan hatinya, kakak perempuan beberapa tahun lalu sudah tiada, papa juga biasa aja. Ah, kita semua satu keluarga ya biasa saja. Baca lebih lanjut